KONSEP BLENDED LEARNING

Secara etimologis istilah Blended Learning terdiri atas dua kata yaitu Blended dan Learning. Kata blend berarti “campuran, bersama untuk meningkatkan kualitas agar bertambah baik” (Collins Dictionary), atau formula suatu penyelarasan kombinasi atau perpaduan (Oxford English Dictionary). Sedangkan learning memiliki makna umum yakni belajar, dengan demikian sepintas blended learning mengandung makna pola pembelajaran yang mengandung unsur pencampuran, atau penggabungan antara satu pola dengan pola yang lainnya. Mosa (2006 : 3) menyampaikan bahwa yang dicampurkan adalah dua unsur utama, yakni pembelajaran di kelas (classroom lesson) dengan online learning.
Blended learning merupakan pengembangan lebih lanjut dari metode e-Learning, yaitu metode pembelajaran yang menggabungkan antara sistem e-Learning dengan metode konvensional atau tata muka (face-toface). Whitelock & Jelfs (dalam Oras, 2005 : 10 ) menjelaskan pengertian blended learning sebagai berikut.
(a). The integrated combination of traditional learning with web-based online approaches (drawingon the work of Harrison); (b). The combination of media and tools employed in an e-Learning environment; (c). The combination of a number of pedagogic approaches, irrespective of learning technology use (drawing on the work of Driscoll).

Sedangkan menurut Oliver dan Trigwell (2005 : 16), mendefinisikan blended learning:
(1). Combining or mixing web-based technology to accomplish an educational goal; (2). Combining pedagogical approaches (‘e.g. constructivism, behaviorism, cognitivism’) to produce an optimal learning outcome with or without instructional technology; (3). Combining any form of instructional technology with face-to-face instructor-led training; and (4). Combining instructional technology with actual job tasks.

Dari definisi blended learning yang dikemukakan para ahli di atas, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa blended learning menekankan pada penggabungan/mengkombinasikan metode pembelajaran secara konvensional (face to face) dengan metode e-Learning. Jadi blended learning merupakan irisan antara face to face learning dan e-learning, jika digambarkan diagramnya, tampak seperti gambar di bawah:

KONSEPMenurut Benthall (2008), terdapat 3 konsep dalam Blended Learning, yaitu (1) pedagogies, (2) technology, dan (3) theories of learning. Pedagogies merupakan perubahan paradigma pembelajaran dari yang dulunya lebih berpusat pada pembelajar (teaching centre learning paradigms) menuju paradigma baru yang berpusat pada pebelajar (student centered learning paradigms). Dalam pedagogies, terjadi pula peningkatan interaksi antara pebelajar dengan pembelajar, antar pebelajar, pebelajar dan pembelajar dengan konten, pebelajar dan pembelajar dengan sumber belajar lainnya. Selain itu, terdapat pula konvergensi antar berbagai metode, media, sumber belajar serta lingkungan belajar lain yang relevan. Technology dalam hal ini adalah menggunakan media internet, seperti website dan blog, chat, forum, teleconference, audio maupun video dalam metode blended learning. Theories of Learning, yang memungkinkan munculnya model-model baru dalam pengajaran dan pembelajaran sehingga terjadi perubahan yang cukup besar dalam transformasi pendidikan atau perubahan dalam paradigm.

Menurut Watson (2009 : 3), ada beberapa bentuk implementasi blended learning, yaitu:
1) Online penuh, dengan ada pilihan untuk melakukan pembelajaran tatap muka (face to face).
2) Sebagian atau online penuh, dengan dibutuhkan waktu tertentu untuk pembelajaran tatap muka (face to face), baik di kelas atau laboratorium.
3) Sebagian besar atau online penuh, dengan siswa tetap belajar konvensional dalam kelas atau laboratorium setiap hari,
4) Pembelajaran konvensional di kelas, tapi siswa dipersyaratkan mengikuti aktifitas online tertentu sebagai pengayaan atau tambahan,
5) Pembelajaran konvensional, dengan melibatkan sumber online, dan
aktifitas online yang bukan menjadi syarat bagi siswa mengikutinya.
Dari kelima model di atas, model implementasi yang paling sederhana adalah model 5 yakni pemanfaatan bahan-bahan online tanpa harus mensyaratkan siswa untuk terhubung dengan internet. Hal ini berarti guru melakukan pembelajaran tatap muka dengan melibatkan kegiatan siswa yang memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di internet misalnya film, animasi, game dan sebagainya. Model implementasi berikutnya adalah model pembelajaran tatap muka dengan kegiatan siswa dan guru melakukan akses internet. Misalnya ketika berdiskusi, siswa dapat mencari bahan-bahan di internet dan mempresentasikannya di kelas. Pada model ini dibutuhkan jaringan internet di dalam dan di luar kelas. Model-model berikutnya adalah model dengan pemanfaatan internet yang intensif.

Menurut Carmen (2005 : 2), Preseident Aglint Learning, menyebutkan cara mengembangkan Blended Learning dalam lima kunci sukses. Adapun kelima kunci tersebut yaitu:
1. Live Event/Face to face, yaitu pembelajaran langsung atau tatap muka secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama (classroom) ataupun waktu sama tapi tempat berbeda. Bagi beberapa orang tertentu, pola pembelajaran langsung seperti ini masih menjadi pola utama. Namun demikian, pola pembelajaran langsung inipun perlu didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan sesuai kebutuhan.
2. Self Paced Learning, yaitu pembelajaran konvensional dikombinasikan dengan pembelajaran mandiri yang memungkinkan peserta didik belajar kapan saja, di mana saja dengan menggunakan berbagai konten (bahan ajar) yang dirancang khusus untuk belajar mandiri baik yang bersifat text-based maupun multimedia-based. Bahan ajar tersebut, dalam konteks saat ini dapat dikirim secara online maupun offline/manual.
3. Collaboration, yaitu pembelajaran dilakukan baik dengan kolaborasi antar pendidik, maupun kolaborasi antar peserta didik yang kedua-duanya bisa lintas sekolah. Dengan demikian, perancang blended learning harus meramu bentuk-bentuk kolaborasi, baik kolaborasi antar peserta didik atau kolaborasi antara peserta didik dan pendidik melalui piranti komunikasi yang memungkinkan seperti chatroom, forum diskusi, email, website/webblog, mobile phone. Kolaborasi diarahkan untuk terjadinya konstruksi pengetahuan dan keterampilan melalui proses sosial atau interaksi sosial dengan orang lain, bisa untuk pendalaman materi, problem solving, project-based learning, dan lain sebagainya.
4. Assessment. Dalam proses pembelajaran, tentu tidak boleh dilupakan bagaimana cara untuk mengukur keberhasilan belajar (teknik assessment). Dalam blended learning, perancang harus mampu meramu kombinasi jenis assessmen baik yang bersifat tes maupun non-tes, atau tes yang lebih bersifat otentik (authentic assessment/portfolio) dalam bentuk project, produk dan lain-lain. Di samping itu, juga perlu mempertimbangkan antara bentuk-bentuk online assessment dan offline assessment, sehingga memberikan kemudahan dan fleksibilitas siswa mengikuti atau melakukan
assessmen tersebut.
5. Performance Support Materials. Jika kita ingin mengkombinasikan antara pembelajaran tatap muka dalam kelas dan tatap muka virtual, pastikan sumber daya untuk mendukung hal tersebut siap atau tidak. Bahan ajar disiapkan dalam bentuk digital, apakah bahan ajar tersebut dapat diakses oleh peserta didik baik secara offline maupun secara online.

Menurut Kusairi (tanpa tahun : 6), ada empat cara mengimplementasikan model blended learning pada tahap permulaan diantaranya:
1. Guru mengintegrasikan teknologi komputer dan informasi dalam materi pembelajarannya. Misalnya guru mendownload video, animasi, dan simulasi yang sesuai untuk dimanfaatkan di kelas. Berbagai media ini diintegrasikan dalam pembelajaran.
2. Guru mengembangkan bahan ajar atau modul berbantuan komputer. Bahan ajar ini dapat diakses oleh siswa dan dapat dipelajari di luar jam tatap muka. Bahan ajar akan membantu siswa yang mengalami masalah dalam pembelajaran tatap muka.
3. Guru mengoptimalkan email dengan mengembangkan email group sebagai wahana diskusi guru-siswa-siswa. Group email juga dapat digunakan untuk berbagi file, mengumpulkan tugas dan sebagainya.
4. Guru mempelajari moodle dan memanfaatkannya sebagai penunjang pembelajaran tatap muka. Guru memanfaatkan fitur yang tersedia untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tatap muka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s